Warung Online
Sabtu, 19 Februari 2011

Pahamilah Makna Kematian dengan Benar !

makna kematian

Kematian tidak berarti akhir dari kehidupan ini. Ia menandai awal sebuah era baru. Ia semata-mata adalah pembatas antara dua masa dalam kehidupan kita. Renungkan petani yang menanamkan modalnya dalam  sebuah ladang, yang dengan tekun mengolahnya hingga ia sampai pada masa panen, kemudian memanennya dan menyimpannya untuk kebutuhan-kebutuhan tahunannya. Panen adalah akhir dari sebuah fase dalam pengembangan ladang. Sebelumnya, adalah masa bagi para petani untuk membanting tulang dan berkorban. Setelah masa itu, ia menikmati hasil usahanya.

Demikian juga halnya dengan kehidupan kita di dunia ini. Disini kita menanam dan mengolah ladang akhirat kita. Masing-masing kita memiliki sebuah ladang yang bisa jadi diolah atau dibiarkan tandus. Kita menggunakan bibit-bibit yang akan memberikan kita hasil yang banyak atau hasil yang sedikit. Setelah menanami ladang kita, kita bisa saja mengurusnya dengan tepat atau mengabaikannya. Kita bisa juga menumbuhkan duri-duri atau menumbuhkan buah-buahan.

Kita bisa saja menumbuhkan rumput liar atau menumbuhkan bunga-bunga. Apapun yang kita lakukan, masa persiapan kita terhadap ladang ini akan berakhir hingga kita mati. Hari kematian kita merupakan masa panen. Itulah hari dimana kita akan menuai apa yang telah kita tanam. Ketika kita tidak lagi melihat dunia ini, kita akan melihat kehidupan selanjutnya dan di hadapan kita, akan dijumpai ladang yang telah kita olah dengan keras (atau kita abaikan) di sepanjang kehidupan kita.

Layak untuk  diingat bahwa siapa saja yang menanam, maka ia akan menuai, dan ia hanya akan memanen ladang yang telah ia tanami. Demikian juga di akhirat, setiap orang akan memanen hasil panen yang telah ia siapkan bagi dirinya sendiri ketika ia masih hidup di dunia. Setiap petani mengetahui dengan baik bahwa apa yang akan ia panen adalah sebanyak apa yang telah ia tanam, dan ladang yang ia panen tidak lain adalah ladang yang telah ia tanami.

Di akhirat, pahala atau siksa yang akan diterima oleh seseorang sebanding dengan tindakan-tindakan baik atau jeleknya, niat-niat baik atau jeleknya, dan kesanggupan untuk melakukan kebaikan dan menghindari kejelekan. Kematian menjadi akhir dari masa usaha-usahanya, dan mengantarkannya untuk memasuki titik akhir dimana ia akan mengalami akibat-akibat mereka. Betapa sebuah persoalan yang sangat genting sekali! Seandainya saja manusia benar-benar memahami hal ini sebelum ia mati! Setelahnya, kesadarannya akan hal ini tidaklah ada gunanya sama sekali. Manyadari kebenaran itu setelah kematian merupakan suatu hal yang sudah terlambat, sebab disana tidak ada masa untuk memperhitungkan besarnya kesalahan seseorang, tidak ada waktu untuk bertobat, tidak ada waktu untuk menebus kesalahan.

Manusia tidak dapat mengetahui nasibnya. Ia hampir tidak menyadari bahwa waktu sedang mengantarkannya dengan sebuah langkah yang berbahaya menuju masa panen ladangnya. Ketika ia memandang dirinya telah melakukan perbuatan yang bermanfaat, mungkin saja semua apa yang sedang ia loakukan adalah untuk mengejar keuntungan-keuntungan duniawi yang tak berharga, mungkin saja ia sedang menyia-nyiakan waktu berharganya. Di hadapannya, ia memiliki sebuah kesempatan emas untuk memastikan sebuah masa depan yang mulia bagi dirinya sendiri, namun sering kali ia memilih untuk menghabiskan waktu dalam kesia-siaan.

Tuhannya mengajaknya untuk menuju surga, tempat keagungan dan kebahagiaan yang abadi. Sementara ia, karena kebodohannya, lebih senang mengejar kesenangan-kesenangan semu dan sementara. Ia menganggap bahwa ia semakin bahagia dan kaya tetapi pada kenyatannya, ia sedang menyia-nyiakan apa saja yang baik bagi kehidupannya. Ia membangun istana duniawinya, seraya dengan gembira membayangkan bahwa ia sedang membangun untuk kehidupannya, tetapi pada kenyataannya, ia sedang mendirikan tembok-tembok pasir yang akan ambruk begitu saja.
Jumat, 18 Februari 2011

Text To Hex, Text To Base 64, URL ( Text Encode & Decode )

Hai semua. Setelah jalan jalan ke google untuk mencari base 64 encoder & decoder akhirnya nemu dech script beginian :D . Script ini berfungsi untuk encode dan decode Text ke dalam Hex , Base 64, URL dan juga sebalik nya :D. Mungkin sudah banyak yang tau tentang script ini. Jadi ini buat yang belum tau aja ya :p Hehhee... Langsung saja ya :D



Untuk Live demo nya bisa KLIK DI SINI

Yupz simple

Kita Cemburu Pada Rakyat Irak

Download Disini

Saya sebenarnya tidak begitu ngerti politik, tapi kondisi negara saat ini mengharuskan setiap warganya untuk membicarakan politik. Artikel ini saya ambil pada ceramah Emha Ainun Najib yang pernah singgah ke kampus waktu itu. Ada dua hal menarik yang beliau kemukakan saat itu sehubungan dengan kondisi negara kita. Pertama, demi nasionalisme dan kecintaan kepada Saddam Husein, yang dalam konteks Amerika kecintaan itu lahir karena senasib sependeritaan, mereka berani menjadi benteng terakhir yang menyediakan badan dan nyawa mereka untuk melayani serbuan Amerika Serikat. Kalau benar ribuan orang membarikade istana kepresidenan lantas benar-benar disikat oleh Amerika, sejarah akan mencatat kekejaman yang kelak akan menjadi bumerang bagi pelakunya.

Hhal kedua yang kita cemburui adalah karena musuh mereka bernama Amerika Serikat. Permusuhan itu tidak enak dan semestinya semua manusia tidak usah hidup jika hanya untuk tumpas karena permusuhan. Tapi kalau memang tak ada pilihan lain, hendaknya permusuhan itu petanya jelas. Seperti kita dulu melawan penjajah Belanda, segala sesuatunya relatif jelas. Kalau mau tembak-tembakan, tikam-tikaman, musuhnya jelas penjajah itu berasal tidak dari diri kita sendiri.

Jadi kecemburuan kita kepada rakyat Irak terletak utamanya pada kemantapan posisi mereka untuk menderita atau mati. Sedangkan penderitaan kita disini settingnya tidak jelas, dimana kita sendiri pada saat dan konteks tertentu terlihat sebagai penindas juga, saking ruwetnya struktur permasalahan bangsa kita ini. Salah satu keruwetan itu misalnya bahwa semua pihak yang menginginkan ada perubahan mendasar di negeri ini tidak kunjung menemukan cara.

Yang menginginkan perubahan, mohon diketahui, tidak hanya Anda yang orang biasa dipinggir jalan, tapi juga banyak bapak-bapak kita yang duduk di kursi pemerintahan, termasuk yang di tingkat atas sana. Saking ruwetnya, sampai-sampai ada yang iseng-iseng memanfaatkan kerusuhan, menungganginya sambil berguman, “Eeee…… siapa tahu Indonesia bisa berubah melalui ini……”

Atau ada yang memang merancang kerusuhan-kerusuhan itu sejak awal, dengan tujuan supaya menjadi “sebab sejarah” yang merangsang sebanyak mungkin pihak untuk kompak menyelenggarakan perubahan. Tapi ternyata hal itu belum terjadi sampai hari ini, padahal pengorbanan sudah sangat banyak. Ternyata masyarakat kita belum bisa menciptakan “dialek progresivisme” untuk secara sinergetik mensubyeki perubahan yang mereka perlukan.

Jangka Pendek dan Menengah Saya “memilih” Mayalsia. Kalau Jangka Panjang ya Indonesia-lah

Kalau menyaksikan dan mengalami hari demi hari sampai satu dua periode sejarah tanah air di depan mata, kita cemburu pada Malaysia. Memang tak ada konglomerat atau pejabat yang sekaya konglomerat dan pejabat kita, tapi kita harus mengakui, tidak ada golongan masyarakat semiskin dan setertekan bangsa indonesia. Pemerataan kesejahteraan Malaysia lebih sukses. Kita tergolong banyak cakap dan kurang serius menangani pemerataan. Indonesia adalah kapal-kapal bocor ekonominya yang penuh dengan lubang-lubang korupsi, kolusi dari atas sampai bawah, yah itu hasil gerogotan kita sendiri.

Meskipun demikian Alhamdulillah sampaisekarang tak kunjung tenggelam di samudra sejarah, hal ini disebabkan oleh saking besarnya kapal, saking sabarnya rakyat, dan mungkin saking sayangnya Tuhan kepada kita. Jangan lantas anda bilang kok saya melecehkan bangsa sendiri. Itu mubadzir dan sikap kerdil. Kita harus sanggup bercermin menatap wajah sendiri secara obyektif di cermin. Kita mestinya menjadi bangsa yang belajar jantan. Hanya orang sentimentil yang kalau gagal lantas bersikap dengki kepada orang lain, karena jauh di bawah sadar kita sukses semacam itu sesungguhnya diam-diam kita damba-dambakan.

Ringgit Malaysia merata pada strata menengah, sementara rupiah kita menggumpal di strata atas, sisanya kita bagi sejumput-sejumput di bawah. Jika dalam hal penguasaan dan penaklukan politik, Indonesia justru profesornya Malaysia. Pak Harto adalah raja empu bagi Mahatir. Banyak metode dan kejadian di Malaysia yang merupakan fotokopi kasus-kasus di Indonesia. Tapi Malaysia butuh ditemani abangnya, ya Indonesia. Lingkaran komitmen bumiputera Malaysia Islam bergelut sangat keras melawan aspirasi universalisme yang membuka peluang bagi India-Cina untuk transparan eksistensi budayanya, ekonominya, bahkan politiknya.

Malaysia baru kursus soal itu kepada kakaknya. Maka banyak-banyaklah penduduk Indonesia bertandang dan kerja disana, karena adikmu diam-diam untuk konteks tertentu merasa terhibur oleh membengkaknya pendatang dari kampung selatan. Ekspor tenaga kerja kita kesana meningkat terus. Anak-anak negeri disana juga panda. Ketrampilan mereka sangat khas, mau belajar, dan hasil kerja borongan mereka yang semula dikomandani etnis Cina akhirnya mereka mendirikan dan upah mereka jauh melebihi Bumiputera pegawai negeri.

Pekerja Indonesia yang punya ketrampilan, upahnya bisa sekitar Rp 300 ribu per hari bahkan saat ini lebih. Yang biasanya macul (petani), nyapu (tukang sapu) upahnya minimal Rp 100 ribu per hari. Jika disini itu gaji resmi pegawai negeri (tanpa proyek terobosan) kelas berapa? Saya tidak menganjurkan agar anda pergi ke Malaysia. Meskipun kita semua kalah lawan para Pangeran Pendekar Sumber Proyek itu, tapi kehidupan di tanah air yang amat kita cintai ini lebih hangat,  menantang dan urakan.

Siapa Takut? Ketika Tuhan Tidak Lagi Ditakuti……

Tulisan ini bermula dari pengamatan iseng saya terhadap fenomena iklan di media elektronik yang muncul beberapa waktu yang lalu. Melalui media iklan yang ditayangkn di televisi,kita mungkin akan tersenyum getir melihat betapa Tuhan memberikan gambaran yang begitu jelas terhadap kondisi sosial saat ini. Seolah Tuhan menyindir kita memalui bentuk-bentuk iklan bahwa begitulah kita saat ini.

Misalnya, iklan sebuah merek sepeda motor dan TV. Iklan tersebut dengan begitu mudahnya memojokkan produksi pesaingnya. Bintang iklannya pun demikian mudah beralih dari satu produk ke produk yang lain dalam satu produksi yang sejenis. Setting iklan tersebut, bintang iklannya, jargon-jargon ikloannya,semua dibuat hampir mirip. Terasa jelas “sangat tidak kreatifnya” si pembuat iklan dan terkesan ada pemanfaatan image yang sudah terbangun dari sebuah produk yang sudah lebih lama ada.

Saya bukanlah ahli periklanan, meskipun sah-sah saja membuat iklan yang demikian, tapi menurut saya melihat ada “sindiran” yang begitu halus dari Tuhan untuk kita semua. Kondisi masyarakat kita dengan begitu jelas dipertontonkan oleh Yang Maha Kuasa melalui iklan-iklan itu. Karena secara tidak langsung iklan itu telah menggambarkan inkonsistensi semua lapisan masyarakat. Betapa masyarakat kita dengan begitu mudahnya melakukan proses pemojokan terhadap satu bagian masyarakat yang lain dan menuai manfaat atas mereka. Masyarakat kita juga tidak mau lagi berpikir untuk membangun sesuatu dengan sebuah rencana dan perjuangan yang teratur. Maunya serba instan, serba cepat dan ingin sekejap berada di barisan terdepan.

Kembali pada judul tulisan ini “Siapa Takut?” saya semakin terheran-heran. Beberapa waktu yang lalu, kita diramaikan dengan jargon iklan salah satu sampo “siapa takut”. Saya yakin, rumah produksi yang membuat iklan itu tidak sengaja, bahkan mungkin tidak tahu, bahwa visualisasinya bisa dengan sangat pas menggambarkan kehidupan masyarkat saat ini. Bagi saya, iklan itu benar-benar mengena, menyindir dengan telak.

Sebenarnya kita tidak takut lagi pada penguasa kita, Tuhan Semesta Alam. Kita dengan mudahnya dan dengan sangat gampangnya meninggalkan shalat, kita terus menerus mempertontonkan perilaku hedonis, materialis, arogan dan destruktif. Kita terbiasa dipertontonkan kebohongan-kebohongan bahkan dengan keterusterangan. Kita juga tidak takut lagi memakan hak orang lain, berbisnis dengan sangat liar, tipu daya, mark-up, kolusi dan korupsi seolah menjadi kewajiban bagi siapa saja yang hendak berbisnis. Seakan kita tidak akan mati, seakan kita akan hidup selamanya.

“Siapa takut” yang menjadi slogan iklan sebuah produk sampo, tiba-tiba terasa menjadi sebuah sindiran tajam dari Tuhan, betapa manusia sekarang saja kehilangan rasa hormat dan rasa terima kasih, tetapi juga sudah kehilangan rasa takut terhadap Tuhan. Tuhan dianggap tidak ada sehingga merasa tidak ada yang mengawasi. Dan Tuhan dianggap sudah mati sehingga tidak ada lagi yang akan memberikan pembalasan.


12980223071655147929 

Mungkin di antara anda ada lagi yang mau “bermain-main” dengan iklan-iklan lain, lalu mulai mengomparasikannya dengan kenyataan hidup. Misalnya, terhadap iklan-iklan yang menampilkan keseronokan wanita atau yang lainnya. Siapa tahu, anda bisa menambah deretan contoh yang tak termuat di tulisan ini.
Kamis, 17 Februari 2011

Sosok Tuhan Yang Menakutkan

Sejak kecil sebagian besar dari kita telah memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat dengan hanya sedikit keimanan kepada Tuhan. Kenapa dikatakan demikian? Sebab ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat dalil, dengan keimanan yang memungkinkan kita untuk menaruh keyakinan kepada kebenaran dalil-dalil tersebut. Keyakinan kita tentang keagamaan yang terkesan pada masa kanak-kanak, lebih banyak merupakan kredo yang menakutkan, sampai terbawa pada masa dewasa. Cerita neraka dengan segenap malaikat penjaganya yang kejam mampu membangkitkan realita kejiwaan yang menakutkan dari sosok Tuhan.

Di sisi lain, Tuhan merupakan figur kabur yang lebih didefinisikan melalui abstraksi intelektual daripada imajinasi. Tuhan sebagai figur di belakang layar (hijab) yang tidak berbuat banyak, karena segala pekerjaan pengaturan alam semesta telah diwakilkan kepada para pembantunya (malaikat). Ia begitu agung dan suci, sehingga cukup bagi-Nya duduk santai di singgasana-Nya, seperti imajinasi tentang raja-raja pada gambaran manusia. Akibatnya, banyak orang yang terjebak kepada imajinasi ini, sebagai batasan manusia untuk tidak membicarakan Tuhan. Dan bagi manusia biasa tidak layak untuk menyentuh wilayah ketuhanan, kecuali melalui perantara nabi, malaikat, para wali, sebab tidak semestinya ketinggian dan keagungan Tuhan yang Suci, didatangi oleh manusia yang penuh kotoran dan dosa.

Agama yang kita tangkap selama ini adalah sebagai seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibeban secara eksternal. Ia bersifat “top down” yang diberikan kepada kita untuk melaksanakan aturan-aturan tersebut atau ditanamkan oleh kiai, guru dan tradisi lingkungan kita. Hal ini sangat berbeda jika keagamaan yang timbul berasal dari jiwa, yang merupakan fitrah internal bawaan otak dan jiwa manusia, karena keagamaan yang berasal dari potensi fitrah akan sesuai dengan ajaran agama yang benar dan universal secara utuh.

Sumber : Berguru Kepada Tuhan oleh Abu Sangkan

Yang Benar Adalah.....................

Mula-mula aku mengira bahwa seorang guru pasti benar dalam segala hal
Lalu aku membayangkan bahwa guruku salah dalam banyak hal
Lalu aku menyadari apa yang benar dan apa yang salah.
Yang salah akan tetap ada di dalam kedua keadaan itu.
Yang benar adalah memberitahukan ini kepada setiap orang.